• 9

    Aug

    alora

    bumbung awan melambung tinggi lesatkan arah pisahkan oleh lilitan angin semilir lumbung-lumbung hatiku terperosok diantara bintang-bintang tergerak lenggang berlarian mengitarinya pupus daun ronaku yang dulu lembar perlembar semburat hilang tuk kejar gempita malam meraba sunyi putus sudah ranting yang ramai dengan cabang meronta sirna perlahan seiring lembar daun yang baru diikuti ukiran kayu tak berbentuk gelak tawa mengitariku perlahan canda ria mencemoohku lambat laun lembut dan sakitku dihadapkan bangunan kokoh semu di pusat kota kelahiranku disini darah desaku menjanin dan terjalin kasar di urat perkotaan pun, kelembutan itu selalu kucari, meski kesunyianku kan kutempa tuk hadapi hari-hari tak pasti barisan besi dan beton itu menghadang hingga dedaunan tak mampu tuk berdiri teg
  • 1

    Aug

    hasta kumbara

    berlabuhku di padang sahara hitam lebam berkerudung rimba surya iringi alunan talu bernada sumbang sekitarku seiring angin membelah malam temaram berangkat dari peraduan memori terukir langsat disini rendesvouz warna-warni surgawi tertambat langkahi seruling berhembus merdu diakhir lagu kosongkan rupa juga muka nyinyir oleh nada berulang belandar melandai terkikis oleh ruang juga waktu yang meraup kikiskan bidur harapkan prihatin tuk tertumbang oleh belas kasih kunang-kunang malam terkekang oleh derap dan deras aliran timah lembut berpaku riang terpesona oleh senigai garda kayu berlapis besi di atas warung Pondok Indah, 30 Juli 2009
  • 1

    Aug

    Gerbong Rindu

    desak angin membelai kening, bak mempelai berbaju rindu menapaki samudra rupa kunang-kunang hinggap di kepala rumput liar julangkan kuasa di tanah gembur terlupakan di pinggir desa disini kereta rindu, disini gerbong kalbu terpendam sinis andaikata senja senyumkan kata, mungkin kan kulayangkan ria didada yang juga lantahkan asa tertata beku andaikata mentari kibarkan lembut cahaya, kan kupandang biasnya hingga prisma tunggal itu tuk tertelungkup di telapak tanganku. @Matarmaja, 28 juli 2009
  • 18

    Jul

    Sanapan Pagi

    kokoh beton itu tak membuat jeritan kami terkulai lemah kami hitam, kurus, lusuh dan tak terawat itu katamu! itu katamu! inilah kataku wahai beton! kami pun dirikan gerobak diatas onthel kami hiasi hidup tuk berdarah dengan nadi kami yang tak terasa nyaman bernafas dibumi kami pun dirikan kios sederhana didepan rumah kami tuk sambung pesona kesederhanaan di era globalisasi terpaksa ini kami pun dirikan kekerasan dalam berbicara di lingkungan kami bukanlah hanya hujatan tapi peringatan tuk saling mengerti kalian bilang aku hanya sampah! dasar pengotor lingkungan! memang aku penyumbat sampah! mungkin, tapi aku tak pernah membunuh macam kalian! tak pernah pula aku menancap golok maupun menikam dari balik hitamputihnya seseorang pun, aku tak pernah dengki tuk lugaskan suaraku yang
  • 16

    Jul

    teraskota pinggiran

    kayu-kayu sederhana guratkan pedih perkotaan kadang menyiksa kadang nelangsa kadang terpaksa susunan itu kokoh terpaku oleh letih keringat sang bapak dan dipadati oleh ibu anak, yang juga menjadi mangsa kota kayu-kayu sederhana lagukan sedih kota pinggiran lapar dan dahaga menyinari kumpulan hati keluarga ayah pun keliling jajakan siomay bergerobak rindu tinggalkan keluarga tuk hidupi darah daging sendiri bola, robot, mobil, sepeda, kata sang mampu kami tak ada apa-apa kata sang tak mampu:menjerit hanya alamlah y...
  • 14

    Jul

    stasiun embun

    picingan mentari pagi mengintip awan pun mulai menarikan lengannya diiringi percikan matahari itu gulirkan irama gelombang badannya nuansa lusuh nan panas itu pun terus lantang kumandangkan detik-detik penantian dimana anak penunggu kereta menunggu setia menanti santapan berlabuhnya besi tua bermoncong masinis lautan asap, lautan terik lautan hati berhiaskan pekerja maupun pedagang tebarkan rona tebarkan makna dimana sentuhan pagi memangsa dimana sentuhan stasiun kereta berada dimana diri...
  • 8

    Jul

    lolong

    lampu taman dolog & rembulan susuri surabaya , tanah pahlawan tanah sura tanah baya tapaki rona ronta , tanah pahlawan tanah sura tanah baya hiasi lampu taman hiasi rembulan hiasi patung berilustrasi biru lampu taman taman dolog taman dolog taman monolog monolog melolong meronta ingin bersimbah tuk sepi ramai malamnya
  • 26

    Jun

    niteyboesway

    Malam sepi kubunuh diriku sendiri jalanan sepi jalanan mati kupatri diri sendiri tuk menyendiri… jembatan busway yang bersih pun menemaniku ihwal sunyi ini ragu tertumbun, ragu tuk tertimbun, ragu tuk terbangun Namun kubangun rasa ini untuk melihat indahnya sisi malam ini… Indahnya malam indahnya temaram… buram-buram saja lampu-lampu itu… @jembatan busway PIM, Jakarta
  • 26

    Jun

    behind the window

    Siang dibawah terik mentari, awan berlari mengejar angin gelombang Dibawah atap renung disisi jendela itu terbesit sedikit cahaya entah apa ratapan itu, entah apa pikiran itu aku pun tak tahu itu siapa Mungkin ini hanya pertemuan, dimana pertemuan itu bukanlah rendesvouz, melainkan pertemuan dalam pertemanan yang baru. Normalkah aku? Benarkah itu? Mampukah aku?
  • 6

    Jun

    twenty first

    crowd some cruelties right in town little met skin, whitey, browney, even some blackness in their heart close, close enough to find some light could this light will be my candle? should this be some new led on my loneliness? note by note will be glow glowness inside this dream, could become true could become blue have to find a way, have to ride away slow, slow it would be necessary to find there , where my truly sick can be heal met some new friends, met some new life to be find, to be fine, also…
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post