alora
bumbung awan melambung tinggi lesatkan arah
pisahkan oleh lilitan angin semilir
lumbung-lumbung hatiku terperosok diantara bintang-bintang
tergerak lenggang berlarian mengitarinya
pupus daun ronaku yang dulu lembar perlembar semburat
hilang tuk kejar gempita malam meraba sunyi
putus sudah ranting yang ramai dengan cabang meronta
sirna perlahan seiring lembar daun yang baru diikuti ukiran kayu tak berbentuk
gelak tawa mengitariku perlahan
canda ria mencemoohku lambat laun
lembut dan sakitku dihadapkan bangunan kokoh semu di pusat kota kelahiranku
disini darah desaku menjanin dan terjalin kasar di urat perkotaan
pun, kelembutan itu selalu kucari, meski kesunyianku kan kutempa tuk hadapi hari-hari tak pasti
barisan besi dan beton itu menghadang
hingga dedaunan tak mampu tuk berdiri tegak menghidupi tanah
kerat karat itu melangsat, meringkuk dibawah kawat rimba liar
lihatlah sekelilingmu, pandang dan rasakan hawa panasmu itu
ukir nada sendu dalam nadi ini, hisap pedih ini nanti : pasti
hasta kumbara
berlabuhku di padang sahara hitam
lebam berkerudung rimba surya
iringi alunan talu bernada sumbang sekitarku
seiring angin membelah malam temaram
berangkat dari peraduan memori terukir langsat
disini rendesvouz warna-warni surgawi tertambat
langkahi seruling berhembus merdu diakhir lagu
kosongkan rupa juga muka nyinyir oleh nada berulang
belandar melandai terkikis oleh ruang juga waktu yang meraup kikiskan bidur
harapkan prihatin tuk tertumbang oleh belas kasih kunang-kunang malam
terkekang oleh derap dan deras aliran timah lembut berpaku riang
terpesona oleh senigai garda kayu berlapis besi di atas warung
Pondok Indah, 30 Juli 2009
Filed under Bebas | Comment (0)Gerbong Rindu
desak angin membelai kening,
bak mempelai berbaju rindu menapaki samudra rupa
kunang-kunang hinggap di kepala rumput liar
julangkan kuasa di tanah gembur terlupakan di pinggir desa
disini kereta rindu, disini gerbong kalbu terpendam sinis
andaikata senja senyumkan kata,
mungkin kan kulayangkan ria didada
yang juga lantahkan asa tertata beku
andaikata mentari kibarkan lembut cahaya,
kan kupandang biasnya hingga prisma tunggal itu
tuk tertelungkup di telapak tanganku.
@Matarmaja, 28 juli 2009
Filed under Bebas | Comment (1)Sanapan Pagi
kokoh beton itu tak membuat jeritan kami terkulai lemah
kami hitam, kurus, lusuh dan tak terawat
itu katamu!
itu katamu!
inilah kataku wahai beton!
kami pun dirikan gerobak diatas onthel kami
hiasi hidup tuk berdarah dengan nadi kami
yang tak terasa nyaman bernafas dibumi
kami pun dirikan kios sederhana didepan rumah kami
tuk sambung pesona kesederhanaan di era globalisasi terpaksa ini
kami pun dirikan kekerasan dalam berbicara di lingkungan kami
bukanlah hanya hujatan tapi peringatan tuk saling mengerti
kalian bilang aku hanya sampah!
dasar pengotor lingkungan!
memang aku penyumbat sampah! mungkin,
tapi aku tak pernah membunuh macam kalian!
tak pernah pula aku menancap golok
maupun menikam dari balik hitamputihnya seseorang
pun, aku tak pernah dengki
tuk lugaskan suaraku yang sederhana ini
(DepepNEt inspired by pak cimol di bawah tol juanda, 18,07,2009)
Filed under Bebas | Comments (2)teraskota pinggiran
kayu-kayu sederhana guratkan pedih perkotaan
kadang menyiksa kadang nelangsa kadang terpaksa
susunan itu kokoh terpaku oleh letih keringat sang bapak
dan dipadati oleh ibu anak, yang juga menjadi mangsa kota
kayu-kayu sederhana lagukan sedih kota pinggiran
lapar dan dahaga menyinari kumpulan hati keluarga
ayah pun keliling jajakan siomay bergerobak rindu
tinggalkan keluarga tuk hidupi darah daging sendiri
bola, robot, mobil, sepeda, kata sang mampu
kami tak ada apa-apa kata sang tak mampu:menjerit
hanya alamlah yang tak menipu
bermainlah aku dengan sekitarku:hiburnya
(Jakarta Selatan, 26 Juni 2009 )
Filed under Bebas | Comments (2)stasiun embun
picingan mentari pagi mengintip
awan pun mulai menarikan lengannya
diiringi percikan matahari itu
gulirkan irama gelombang badannya
nuansa lusuh nan panas itu pun terus lantang
kumandangkan detik-detik penantian
dimana anak penunggu kereta menunggu
setia menanti santapan berlabuhnya besi tua bermoncong masinis
lautan asap, lautan terik lautan hati
berhiaskan pekerja maupun pedagang
tebarkan rona tebarkan makna
dimana sentuhan pagi memangsa
dimana sentuhan stasiun kereta berada
dimana diriku bercinta dengan suasana itu:juga
(stasiun jakartakota 14 Juli 09) *sempat salah tulis stasiun senen.. hohoho
Filed under Bebas | Comment (0)lolong

lampu taman dolog & rembulan
susuri surabaya , tanah pahlawan tanah sura tanah baya
tapaki rona ronta , tanah pahlawan tanah sura tanah baya
hiasi lampu taman hiasi rembulan hiasi patung berilustrasi biru lampu taman
taman dolog taman dolog taman monolog
monolog melolong meronta ingin bersimbah tuk sepi ramai malamnya
Filed under Bebas | Comment (0)niteyboesway
Malam sepi kubunuh diriku sendiri
jalanan sepi jalanan mati kupatri diri sendiri tuk menyendiri…
jembatan busway yang bersih pun menemaniku
ihwal sunyi ini ragu tertumbun, ragu tuk tertimbun, ragu tuk terbangun
Namun kubangun rasa ini untuk melihat indahnya sisi malam ini…
Indahnya malam indahnya temaram…
buram-buram saja lampu-lampu itu…
@jembatan busway PIM, Jakarta
Filed under Bebas | Comment (0)behind the window
Siang dibawah terik mentari, awan berlari mengejar angin gelombang
Dibawah atap renung disisi jendela itu terbesit sedikit cahaya
entah apa ratapan itu, entah apa pikiran itu aku pun tak tahu itu siapa
Mungkin ini hanya pertemuan, dimana pertemuan itu bukanlah rendesvouz, melainkan pertemuan dalam pertemanan yang baru.
Normalkah aku? Benarkah itu? Mampukah aku?
twenty first
crowd some cruelties right in town
little met skin, whitey, browney,
even some blackness in their heart
close, close enough to find some light
could this light will be my candle?
should this be some new led on my loneliness?
note by note will be glow
glowness inside this dream, could become true could become blue
have to find a way, have to ride away
slow, slow it would be necessary to find
there , where my truly sick can be heal
met some new friends, met some new life
to be find, to be fine,
also…
Filed under Bebas | Comment (0)

